Proses Pengadaan Bibit Mente oleh Dinas Perkebunan dan Holtikultural Segera Tayang, Bakin Sultra : Kita Awasi

  • Whatsapp

Foto : IST

 

SENTRALSULTRA.ID, KENDARI – Program pengadaan bibit Mete di Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu perhatian lembaga Barisan Aktivis Sulawesi Tenggara (Bakin Sultra). Lembaga ini rencananya akan menyambangi instansi tersebut guna mengkonfirmasi paket proyek pengadaan bibit mente yang diperuntukan di 3 (tiga) Kabupaten yakni Muna, Buton, Muna Barat (Mubar) dan Buton Selatan (Busel) yang dianggarkan pada tahun 2020 ini.

Paket tersebut rencananya akan tayang Rabu, (20/5/2020). Mete merupakan salah satu produk unggulan di Sultra sehingga lembaga ini menilai perlu pengawasan dalam melaksanakan proyek tersebut. Olehnya itu, Ketua Bakin Sultra, La Munduru mewarning Kepala Dinas (Kadis) Perkebunan dan Holtikultura Sultra, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Layanan Pengadaan (BLK), agar melaksanakan proyek tersebut sesuai aturan.

“Jangan pernah memenangkan perusahaan yang tidak memiliki sertifikasi atau tidak ada dasar hukumnya,” ungkap La Munduru, Rabu (20/5/2020)

Besarnya perhatian terhadap program mete tersebut, membuat lembaga Bakin Sultra menunjuk ketuanya untuk mewanti-wanti Kadis Perkebunan dan Holtilkultura Sultra sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) untuk memulai lelang (menayangkan) paket tersebut. Pasalnya ujar Munduru, banyak penyedia bibit seperti BBU, di Desa Guali, Kecamatan Kusambi, Mubar yang mengadakan pembibitan benih mete, namun diduga tidak mengantongi izin ferifikasi dari kementrian Pertanian (Kementan).

“Sesuai Permentan no. 50/020/9/2015, ferifikasi itu sangat penting,” ungkap La Munduru.

La Munduru yang juga aktivis di salah satu Universitas ternama di Sultra itu menjelaskan, setelah berdiskusi dengan anggotanya, pada prinsipnya mereka sangat mengapresiasi program tersebut.

“Jambu mete ini salah satu andalan di Sultra. Dengan program ini, otomatis dapat mengangkat nama Sultra sebagai penghasil mete yang berkwalitas. Begitupula petani mete jika tanaman ini berbuah akan meningkatkan ekonomi mereka,” bebernya.

Bakin Sultra berharap, pengelolaan paket tersebut dilakukan sesuai prosedur. Salah satunya dengan tidak menggunakan bibit yang tidak tersertifikasi.

“Jangan ketika ada pengadaan bibit, langsung pakai bibit sembarang, sekedar jadi dokumentasi dan pertanggug jawaban proyek saja kalau tim masuk lapangan. Padahal kualitas tanamannya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan bibit. Jadi harus lolos uji ferifikasi jadi masyarakat senang juga tidak menanam sia-sia,” ungkapnya.

Munduru mencontohkan, pengadaan bibit benih disalah satu desa di Mubar yang tidak lolos uji ferifikasi.

“Mengelola uang negara itu butuh pertanggung jawaban dimata hukum nantinya,” ujarnya mewanti wanti.

Terkait pengawasan jalannya proyek tersebut nantinya, kendati Bakin Sultra tidak dilibatkan, lembaga ini mengaku akan all out di lapangan. Latar belakang Sultra yang dikenal dengan sektor pertaniannya, menjadi alasan Bakin untuk terjun dalam melakukan pemgawasan.

“Penduduk kita sebagian besar petani penanam tanaman tahunan, dan jangka pendek. jadi kita harus dukung agar bisa berkembang, khususnya pemerintah dan pemuda pertanian yang spesifik keilmuannya,” jelasnya.

Laporan: Naja/Fiat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *