Pilkada Muna Diduga Berjalan Amburadul Pemilih Dalam Setahun Naik 17.229

  • Whatsapp

Foto: Ilustrasi/Istimewa

SENTRALSULTRA.ID, MUNA – Netralitas Penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Muna patut dipertanyakan. Kerja-kerja mereka untuk memuluskan salah satu pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati LM Rusman Emba dan Bachrun Labuta diduga berjalan cukup rapi. Berbagai kecurangan disinyalir dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM).

Dugaan itu, berdasarkan hasil penelusuran Tim pencari fakta kubu La Ode M Rajiun Tumada dan La Pili. Tim pencari fakta menuding ada konspirasi besar yang dilakukan penyelenggara, sebelum dan saat pencoblosan untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Makanya, jalur Mahkama Konstitusi (MK) menjadi pilihan menggugat hasil Pilkada Muna.

Opsi ke MK, bukan tanpa dasar. Melainkan, berdasarkan hitung-hitungan yang memang penyelenggaraannya berjalan secara brutal. Itu terlihat dengan lonjakan partisipasi pemilih yang sulit diterima nalar. Tim pencari fakta, Isroni Hamka membeberkan sejumlah data partisipasi pemilih.

Ia menjelaskan, saat Pilkada Muna tahun 2015 silam, pasangan LM Rusman Emba dan Malik Ditu meraih 47.434, Arwaha Ady Saputra dan La Ode Samuna meraih 5.407, sementara Baharuddin dan La Pili mencapai 47.467. Dengan suara sah 100.309 dan tidak sah 876 dengan total keseluruhan 101.192 suara. Dari 321 TPS.

Nah, untuk pemilihan Gubernur di Muna tahun 2018, suara keseluruhan mencapai 80.103. Dengan suara sah 78.655 dan tidak sah 1.446. Dari jumlah TPS 321. “Disini terlihat, partisipasi pemilih tidak begitu signifikan,” kata Isroni Hamka.

Saat Pilcaleg 2019, lanjut Roni demikian disapa, total suara yang disalurkan yakni 103.000 suara. Hitungannya, untuk menemukan kecurangan, antara 2015 ke 2019, jumlah pemilih bertambah itu hanya mencapai 1.808. “Hitungan matematikanya, antara 2015 ke 2019 maka 103.000 dikurang 101.192 hasilnya itu 1.808. Dia bertambah hanya 1.808,” jelasnya.

Sementara untuk tahun 2020, kata Roni, jumlah pemilih over kapasitas. Untuk suara La Ode M Rajiun Tumada dan La Pilih mencapai 56.008 sementara LM Rusman Emba dan Bachrun Labuta mencapai 64.221. Sehingga diakumulasikan mencapai 120.229 suara. “Disini aneh. Selama empat tahun saja dari 2015 ke 2019, pemilih cuman naik 1.808. Dari 2019 ke 2020, naiknya luar biasa. Yakni 120.229 dikurang 103.000 hasilnya 17.229. Luar biasa naiknya. Logikanya tidak masuk akal selama setahun naik begitu tinggi,” ucapnya.

Makanya, Roni mengaku ada kecurangan yang dilakukan. Baik itu, mulai dari pencoblos menyalurkan suaranya dengan mencoblos tiga lembar suara, kemudian ada pemilih di bawa umur serta lain-lain. “Silahkan tafsirkan. Pakar statistik pun, mengaku tidak masuk akal. Ada kecurangan yang dilakukan. Banyak kecurangan yang dipertontonkan di 401 TPS,” katanya.

Untuk itu, ia mengaku, MK menjadi pilihan. Apalagi, saat menggugat hasil Pilkada merupakan hak konstitusi pasangan berakronim RAPI itu, sebagai warga negara. “Nanti MK lah yang membuktikan. Karena, karma akan selalu berlaku pada semua orang,” jelas Roni.

Laporan: Hirzan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *