Perihal Penolakan Penggunaan Jalan Umum untuk Hauling, PT Asmindo : Kami Sudah Ajukan Izin ke BPJN

  • Whatsapp

Ketgam: Suasana Konferensi pers yang dipimpin langsung oleh Direktur Utama, PT Asmindo, Muhammad Amir Sahid. Foto: Edi Fiat.

SENTRALSULTRA.ID, KONAWE – Salah satu Perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan nikel yakni, PT Asera Mineral Indonesia (Asmindo) yang beralamat di Desa Sonai, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pihaknya angkat bicara mengenai informasi yang sempat firal dibeberapa media belakangan ini yakni, penolakan rencana penggunaan jalan umum sebagai jalan hauling perusahaan untuk mengangkut ore nikel dari lokasi produksi di Desa Sonai, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe menuju Jetty milik PT Tiple Eight di Palangga Selatan, Konsel dan Jetty milik PT Tas yang beralamatkan di Kota Kendari oleh sejumlah aktivis yang ada di Sultra.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama (Dirut) PT Asmindo, Muhammad Amir Sahid ditemani Humasnya Basran, saat melakukan konferensi pers di kantornya, Jumat 23 April 2021 mengatakan, terlebih dahulu saya menyampaikan bahwa, sebenarnya PT Asmindo ini merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), Operasi Produksi Khusus (OPK) pengangkutan dan penjualan.

“Jadi yang kami mohonkan itu adalah terkait penggunaan jalan untuk Hauling. Karena terkait pengangkutan dan penjualan komoditi mineral. Dan izin pengangkutan dan penjualan tersebut, Kami PT Asmindo sudah mengantonginya. Hanya saja ini izin jalan Hauling. Tapi kami sementara ajukan,” ungkap Amir Sahid kepada awak media.

Nah, sehubungan dengan rencananya kami akan mengangkut Ore ini lanjut Amir Sahid, itu rencananya melalui 2 (dua) Kabupaten. Yang satu melalui Kabupaten Konawe karena terkait penjualannya kita ke PT VDNI. Dan yang kedua melalui Pelabuhan Khusus (Tersus) yang di Palangga Selatan, Konawe Selatan (Konsel).

Untuk diketahui sebelumnya kami sudah adakan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai pengangkutan dan aktivitas penambangan nikel.

“Kemarin kami sudah lakukan sosialisasi rencana pengangkutan di 5 (lima) Kecamatan, diantaranya, Kecamatan Angata, Benua, Andoolo, Andoolo Barat, dan Kecamatan Palangga. Dan terakhir di Kecamatan Palangga Selatan. Respon yang kemarin kami sosialisasikan yang telah di hadirkan para kepala desa bersama tokoh-tokoh desa setempat, responnya Positif. Cuman memang ada beberapa orang yang bertanya kepada kami, tapi kami sampaikan, dan hasilnya pula sudah di pahami. Sehingga masyarakat oke-oke saja,” lanjutnya.

“Namun di media sosial terus berkembang perdebatan, mungkin kami belum sampaikan kepada mereka saat sosialisasi, atau pada saat kami sosialisasi belum ketemu,” lanjutnya.

Amir Sahid menambahkan yang menjadi Kontribusinya kepada masyarakat, rencana pengangkutan ore ini kami akan melibatkan tiap Desa atau tiap Kecamatan untuk terlibat langsung menjadi mitra perusahaan kami. Yang seharusnya kami bermitra dengan kontraktor pengangkutan tapi kami ini bermitra dengan masyarakat atau desa-desa yang dilewatinya, sebanyak 31 (tiga puluh satu) Desa. “Yang dimana desa-desa inilah nantinya akan mengelola Dump Truk (DT), unit lain untuk diperlukan oleh pengangkatan dan itu yang menjadi Kontribusi kami PT Asmindo,” tambahnya.

“Kami juga akan memberikan kontribusi uang tunai kepada 31 desa setiap bulannya yang fiks dengan nilai sekitar Rp3 juta, itu untuk ditahap awal. Diluar yang diberikan kepada mitra. Kami juga membuka diri untuk membantu membangun fasilitas-fasilitas umum,” lanjutnya lagi.

Kemudian lanjut kepada persoalan penggunaan jalan umum untuk jalan hauling, rencananya terlebih dahulu kami benahi. Karena ada pemukiman penduduk. Sebab pertimbangannya, kalau tidak dibenahi mungkin satu kali lewat saja. Tapi kalau kita benahi mungkin bisa lebih dari satu kali. Kira-kira seperti itu pertimbangan kami.

“Jadi mobil juga awet, dan jalanan juga mudah tidak untuk rusak,” terangnya.

Untuk diketahui juga, masyarakat dan teman-teman aktivis, sebelum kami mengaspal, Kami PT Asmindo sementara mengajukan izin terkait penggunaan jalan umum ke Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN). “Dari BPJN juga sudah memberikan kami persyaratan-persyaratan untuk kami lakukan. Dan persyaratan itu sementara kami lakukan diantaranya salah satunya, jembatan timbang, kolam untuk pembersih kendaraan sebelum beroperasi,” bebernya.

“Muatan tidak boleh melebihi dari pada batas yang sudah di tentukan, dan harus dilengkapi dengan rotari. Artinya sesuai standar lalu lintas lah,” terangnya.

Perlu diketahui sambungnya, salah satu yang dipersyaratkan BPJN sebelum beraktivitas adalah, membuat jalan terlebih dahulu sepanjang 100 (seratus) Meter dari jalan aspal dengan pertimbangan kalau hujan, kondisi mobil sudah bersih. Tentunya kami menyediakan kolam. Sebelum beroperasi Mobil-mobil yang akan beroperasi akan dibersihkan di Kolam dimaksud.

“Yang tak kala untuk diketahui juga adalah dikala melewati jalan ini, kami PT Asmindo disarankan untuk menyimpan jaminan deposito pemeliharaan sepenjang 84 KM. Itu wajib untuk di deposito,” tutup Dirut PT Asmindo. (Edi Fiat).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *