Alasan Belum Penuhi Unsur, Polda Sultra Bebaskan Terduga Pungli di TPI Kendari

  • Whatsapp

SENTRALSULTRA.ID, KENDARI – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui tim Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), mengamankan 7 (tujuh) orang terduga Pelaku Pungutan Liar (Pungli) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kendari, Kelurahan Sodoha, Kecamatan Kendari Barat. Selasa 22 Juni 2021.

Salah satu yang diamankan tim Jatanras Polda Sultra berinisial IDR mengaku tidak tahu menahu soal dirinya akan seperti ini (berurusan dengan Kepolisian), pihaknya hanya diarahkan pak ID untuk menagi diarea parkiran motor.

“Kami berdua hanya menagi parkiran bagian depan khusus motor. Uangnya kami setor sama pak ID. Perharinya itu kami di target berkisar Rp90 ribu,” ucap IDR.

Lanjut IDR, kami ikut bekerjasama dengan pak ID sudah tahunan, cuma dalam seminggu bekerja hanya 5 hari. Hal yang sama dilakukan dengan rekannya LU ketika ditemui dan memberikan keterangan kepada awak media di Polda Sultra disela-sela usai Pemeriksaan.

IDR dan LU mengakui bahwa ID ini hanya orang biasa dan bukan bagian dari petugas TPI atau pelelangan ikan ini.

“ID ini sepengetahuan kami, warga biasa saja. Kami hanya disuruh dan ditugaskan oleh ID menjaga area parkir motor. Yaa mau tidak mau kita lakukan itu,” terangnya.

Dari pantauan media ini, terduga diketahui diamankan pada hari Selasa 22 Juni 2021 sekitar pukul 10:00 wita yang selanjutnya di Lidik oleh Tim Jatanras dan, diperkirakan sekitar pukul 16:00 wita Rabu 23 Juni 2021 terduga Pungli keluar dari ruang tim Lidik untuk selanjutnya diperbolehkan untuk pulang.

Sementara itu, Kasubdit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Reskrimum Polda Sultra, AKBP Priyo saat ditemui diruang kerjanya mengatakan, Pelaku terduga Pungli diamankan tim Jatanras itu sekitar 7 (tujuh) orang. Terduga Pungli diamankan di TPI Kendari saat melakukan aktivitas penagihan area parkiran dan penjual sayur.

“Nah, terkait dengan terduga Pungli ini pihaknya telah melakukan pembinaan, sebab dalam pasal 368, unsur pemerasan dan premanisme tidak terpenuhi. Karena kesepakatan antara Pedagang dan Penagih,” ungkap AKBP Priyo.

Lanjut Priyo nama sapaan akrabnya mengutarakan, intinya dalam kasus ini kita masih lakukan upaya pembinaan, dan terus kita lakukan pendalaman sampai dengan dugaan Pungli yang di lapak-lapak penjual ikan. Jadi para terduga Pungli ini kita sanksi pembinaan berupa wajib lapor,” paparnya.

“Kita masih melakukan penyelidikan. Untuk sementara ini kita masih fokus di penjual sayur. Untuk di Penjual ini belum termonitor. Dan ini terus kita masih lakukan penyelidikan,” terangnya.

Dimana sebelumnya salah seorang warga di Kelurahan Sodoha yang juga Pedagang Ikan di TPI Kendari yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku bingung dengan penagihan yang bermacam-macam. Anehnya, penagihan tidak hanya dilakukan oleh pihak TPI Sodoha Kendari, namun oknum preman pimpinan “ID” yang setiap hari juga melakukan penagihan.

“Kami juga sebenarnya pedagang ikan di TPI Kendari ini juga bingung. Kok banyak sekali macam penagihannya. Penagihannya itu bervariasi, ada untuk jasa keamanan, uang meja, dan uang kebersihan, bahkan uang parkir. Kalau kita tidak penuhi permintaan si ID tersebut, Kami diancam untuk dikeluarkan dari areal Lelang ini,” ucap salah satu Pedagang ini.

Pedagang ini membeberkan, pungutan yang diduga tidak memiliki dasar hukum tersebut, sangat tidak wajar dengan berbagai alasan seperti uang meja, kebersihan dan keamanan.

“Uang Meja saja kami di tagi pertahunnya sekitar Rp20 juta. Perbulannya Rp100 ribu sampai dengan Rp150 ribu. Sedangkan uang hari-harinya yang di pungut itu Rp5 ribu dua kali sehari. Belum lagi pihak TPI kami membayar Rp5 ribu sekali dalam sehari. Anehnya si ID ini memungut tanpa karcis retribusi atau tanda bayar lainnya. Kami langsung dimintai uang. Kadang anggotanya Ilham dan si Ilham nya itu sendiri,” bebernya.

“Jujur, kami sebagian dari Pedagang tidak terima dengan perlakuan si ID ini, karena dalam penagihan itu tidak ada dasar hukumnya untuk memintai kami seperti Karcis. Dan si ID ini bukan bagian Pemerintah karena Saya melihat si ID ini sudah tahunan Pakaiannya begitu-begitu saja, amburadul. Kami tahu sendiri bahwa si ID ini adalah “Preman” yang suka mengatur di areal lelang dan luar lelang . Kami menginginkan kejadian dan perlakuan si ID ini tidak terulang lagi,” sambung Pedagang dengan nada kesal. (HS-EFI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *