LPPM UHO Introduksi BSF dan Cacing Tanah Dukung Keberlanjutan Suplai Bahan Baku Kopi Belut Desa Puuhopa

SENTRALSULTRA.ID, KONAWE -, Desa Puuhopa, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, memiliki satu produk yang menarik perhatian lokal maupun nasional, yakni Kopi Belut yang diproduksi UMKM Srikandi. Untuk menjaga keberlanjutan suplai bahan baku belut yang selama ini berasal dari penangkapan di alam, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Sukamukti” di Desa Puuhopa, dan juga UMKM Srikandi sendiri, melakukan budidaya belut sawah. Namun masih terkendala pada suplai pakan dan penyiapan media lumpur untuk budidaya. Karena itu, LPPM UHO melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) berjudul: PKM Kelompok Pembudidaya Belut Sawah (Penerapan Blue Economy: Kotoran Sapi – Maggot/larva lalat tentara hitam (Black Soldier Flies/BSF) dan Cacing Tanah – Belut Sawah – Maggot BSF dan Cacing Tanah untuk Penyediaan Pakan Kontinu pada Kelompok Pembudidaya Belut Sawah di Desa Puuhopa, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara), turun tangan membantu. Solusi yang ditawarkan tim yang terdiri dari Dr. Ir. Muhammad Idris, M.Si, Dr. Ir. Utama Kurnia Pangerang, M.Si (keduanya dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo), Dr. Amirullah, M.Si (Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo), dan dua orang mahasiswa biologi MIPA UHO, adalah budidaya BSF dan cacing tanah. Introduksi kedua jenis pakan tersebut, dilakukan pada kegiatan pelatihan yang berlangsung di Rumah Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Kopi Belut Kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) “Srikandi” di Desa Puuhopa, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (2/7).

Kegiatan yang diikuti oleh warga Desa Puuhopa, anggota Kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) “Srikandi”, anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Sukamukti”, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) setempat, Kepada Desa Puuhopa, Petugas Penyuluh Perikanan Lapangan setempat, dan anggota Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) Konawe, dilanjutkan dengan praktek. Dijelaskan dalam pelatihan, selain BSF dan cacing untuk pakan belut, bekas maggot (kasgot) dan bekas cacing (kascing) juga dapat digunakan sebagai media lumpur budidaya belut yang bebas amoniak. Dikenalkan pula potensi ekonomi lain dari komoditas belut sawah, BSF dan cacing tanah, yakni produk fillet belut sawah, maggot BSF kering untuk pakan ikan akuarium, kasgot, dan kascing untuk media tanaman dalam pot. Dalam sambutannya, Kepala Desa Puuhopa, Kiswanto, S.Sos, M.A.P, menyambut baik dan berterima kasih kepada Universitas Halu Oleo yang ikut mendukung keberlanjutan bahan baku belut untuk produk icon Desa Puuhopa, yakni Kopi Belut. “Pengetahuan budidaya BSF yang ternyata memiliki kandungan protein tinggi, sangat berguna bagi warga, bukan saja untuk kebutuhan budidaya belut sawah namun juga untuk ikan lele yang merupakan salah satu program dalam bantuan dana desa di Desa Puuhopa pada tahun 2022 ini,” ungkapnya.

“Semoga ilmu maggot BSF yang didapatkan pada hari ini, akan saling dukung dengan program desa yang sedang berjalan, dan akan meningkatkan ekonomi kita” harapnya menambahkan.

Untuk diketahui bahwa kegiatan pelatihan hanya satu dari rangkaian kegiatan pada PKM ini. Kegiatan lain adalah pembuatan rumah maggot, bimbingan budidaya BSF dan cacing hingga panen, pendampingan pengolahan maggot hingga siap jual, penyerahan peralatan untuk mengolah maggot, penyerahan peralatan untuk pembuatan fillet dan pendampingan pemasaran produk secara on line dengan memanfaatkan media sosial.

“Sesuai harapan kepala desa, dan harapan kami dari UHO, kegiatan ini akan memberikan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan, baik bagi mitra maupun masyarakat Desa Puuhopa secara keseluruhan,” pungkas Ketua Tim PKM, Dr. Ir. Muhammad Idris, M.Si. (Redaksi)**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.