Pesona Tari Lariangi: Simbol Keanggunan dan Adat Kesultanan Buton
Tari Lariangi adalah seni pertunjukan tradisional yang berasal dari Kaledupa, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nasional pada tahun 2013 dan dinominasikan sebagai Warisan Tak Benda oleh UNESCO. Artikel ALL ABOUT SULAWESI TENGGARA ini akan mengupas tuntas pesona Tari Lariangi sebagai simbol keanggunan dan adat Kesultanan Buton, yang memikat hati dan terus dilestarikan hingga kini.
Asal-Usul dan Sejarah Tari Lariangi
Tari Lariangi memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan Kesultanan Buton. Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14, tepatnya saat Raja Wakaaka dinobatkan sebagai raja pertama di Kaledupa. Sumber lain menyebutkan bahwa tarian ini muncul pada abad ke-17, pada masa Kesultanan Buton.
Pada zaman dahulu, Tari Lariangi dipentaskan di istana raja dan berfungsi sebagai media penyebaran informasi kepada masyarakat. Para penari menyampaikan informasi, nasihat, dan hiburan melalui gerakan tari dan lagu. Tarian ini awalnya merupakan tari persembahan untuk menghibur raja.
Keanggunan Gerak dan Busana Tari Lariangi
Tari Lariangi ditarikan oleh 10 hingga 12 perempuan dengan gerakan yang didominasi oleh gerakan duduk dan melingkar sambil mengibaskan lenso atau kipas. Gerakan tari ini diiringi dengan perkataan “le…le…” sebagai tanda bahwa tarian siap ditampilkan atau diakhiri. Klimaks tarian ini adalah gerakan nyibing yang dilakukan oleh dua penari lelaki yang menari mengelilingi dua penari perempuan.
Gerakan ini melambangkan bahwa laki-laki harus melindungi perempuan dalam kondisi apapun. Busana penari Lariangi sangatlah anggun dan memiliki makna simbolis. Bagian kepala disebut panto dan pintoru yang melambangkan derajat bangsawan. Hepupu atau konde melambangkan Kerajaan Buton, bunga konde melambangkan Pagar Beton Keraton, dan toboy atas bawah kamba melambangkan prajurit penjaga benteng keraton.
Hiasan lainnya termasuk hebindu atau sangi-sangi yang melambangkan Fatimah (anak Nabi Muhammad SAW), kalung melambangkan matahari dan bulan, naga melambangkan penjaga benteng keraton, sekori dan gelang bersusun melambangkan derajat bangsawan.
Kombo tipis melambangkan gadis atau wanita yang sudah menikah, pelapis kombo berwarna jingga melambangkan sore hari, punto atau wuray nibelo dasar hitam melambangkan malam hari, dan manik-manik putih melambangkan cahaya alam.
Baca Juga: Mengapa Tari Lulo Begitu Istimewa? Ini Keunikan dan Sejarahnya!
Iringan Musik dan Syair yang Bermakna
Tari Lariangi diiringi oleh alat musik традиционен berupa kendang, gong, dan bonang. Selain menari, para penari juga melantunkan syair-syair yang mengisahkan berbagai hal, seperti kapal-kapal yang memasuki Pulau Kaledupa, sejarah, petuah, keindahan alam, perang, permainan, dan kisah cinta.
Salah satu lagu yang sering dinyanyikan adalah “Iya Malahu” yang menceritakan kisah di Keraton Buton pada masa silam tentang kapal-kapal yang masuk ke Kaledupa. Lagu lainnya adalah “Ritanjo” yang berisi puji-pujian untuk Pulau Hoga dan ajakan untuk menjaga kelestarian laut.
Pada zaman dulu, lagu yang dinyanyikan bisa mencapai 30-an dengan berbagai macam isi syair. Namun, untuk menyesuaikan zaman, pentas tarian ini tidak lama dan hanya memainkan dua hingga tiga lagu.
Transformasi dan Adaptasi Tari Lariangi
Seiring berjalannya waktu, Tari Lariangi mengalami transformasi dan adaptasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Jika dulu tarian ini hanya dipersembahkan untuk menghibur raja, kini para penonton diperbolehkan untuk ikut bergabung dalam tarian, meskipun gerakannya asal-asalan.
Pertunjukan Tari saat ini hampir mirip dengan tari tayub di Jawa, di mana para penari perempuan memberikan selendang kepada tamu pria dan mengajak mereka menari bersama serta memberikan uang saweran. Meskipun mengalami perubahan, Tari ini tetap mempertahankan esensi dan makna simbolisnya sebagai warisan budaya yang berharga.
Pelestarian Tari Lariangi Sebagai Warisan Budaya
Tari Lariangi merupakan bagian dari keragaman budaya dan tradisi masyarakat Wakatobi yang perlu dilestarikan sebagai salah satu kekayaan daerah. Tarian ini telah diusulkan sebagai salah satu tarian yang dapat dipatenkan ke UNESCO sebagai seni budaya nusantara. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat terus berupaya untuk melestarikan Tari ini melalui berbagai cara.
Seperti mengadakan festival seni, melatih generasi muda, dan mempromosikan tarian ini kepada wisatawan. Dengan ditetapkannya Tari ini sebagai warisan budaya tak benda, diharapkan upaya pelestarian dapat dilakukan secara maksimal untuk generasi mendatang.
Kesimpulan
Tari Lariangi adalah simbol keanggunan dan adat Kesultanan Buton yang mempesona dan kaya akan makna. Dari gerakan yang gemulai, busana yang anggun, hingga iringan musik dan syair yang bermakna, Tari ini memancarkan keindahan dan kearifan lokal yang patut dibanggakan.
Meskipun mengalami transformasi dan adaptasi, Tari Lariangi tetap menjadi identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Wakatobi dan Sulawesi Tenggara. Upaya pelestarian Tari Lariangi harus terus dilakukan agar tarian ini tetap hidup dan lestari, serta dapat dinikmati oleh generasi mendatang.