Benteng Liya Togo: Saksi Bisu Sejarah dan Warisan Budaya Wakatobi
Benteng Liya Togo adalah destinasi wisata yang terletak di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi.
Situs ini menawarkan kombinasi antara wisata sejarah, budaya, dan keindahan alam. Di bawah ini, ALL ABOUT SULAWESI TENGGARA akan mengajak Anda menjelajahi Benteng Liya Togo, sebuah destinasi wisata yang memadukan sejarah dan budaya.
Sejarah dan Signifikansi Benteng Liya Togo
Benteng Liya Togo didirikan sekitar tahun 1200-an dan menjadi bagian dari Kesultanan Buton. Benteng ini dibangun sebagai sistem pertahanan dengan tiga lapisan. Pada masa pemerintahan Raja Buton XVII, seorang putranya dinobatkan sebagai pemimpin Kerajaan Liya, menjadikan Benteng Liya Togo sebagai pusat pemerintahan bercorak Islam dan pemukiman di luar istana kesultanan.
Benteng ini juga menjadi saksi penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Pada abad ke-16, Raja Muna I membangun benteng ini sebagai struktur pertahanan. Meantu’u (Raja) Liya ke-12, La Ode Ali, mengambil alih wilayah ini pada tahun 1732-1750 Masehi.
Benteng ini kemudian menjadi bagian penting dari penyebaran agama Islam di Kesultanan Buton. Benteng Liya Togo dulunya adalah bagian dari Kesultanan Buton, bahkan menjadi pusat pertahanan wilayah timur Kesultanan Buton yang dipimpin oleh seorang Meantuu. Setelah kemerdekaan Indonesia, posisi Meantuu digantikan oleh seorang ketua pada tahun 1952, kemudian menjadi kepala desa dari tahun 1952 hingga sekarang.
Arsitektur Unik dan Tata Letak Benteng
Benteng Liya Togo memiliki arsitektur yang unik dengan bentuk segi delapan dan luas sekitar 30 hektar. Dinding benteng memiliki tinggi 10 meter dan tebal 3 meter. Benteng ini memiliki tiga lapisan pertahanan, dengan 14 pintu masuk ke lapisan utama. Empat pintu terletak di lapisan pertama dan 10 pintu di lapisan kedua.
Material yang digunakan dalam pembangunan benteng ini adalah batu karang yang disusun tanpa perekat. Beberapa bagian dinding benteng telah dipugar, tetapi dinding asli masih dapat dikenali dari bebatuan berwarna hitam. Di dalam benteng, terdapat ruang pertemuan raja, ruang tamu raja, ruang persenjataan, ruang penyimpanan makanan, penjara, sumur air tawar, dan lubang intai.
Lebih dari selusin gerbang kayu menghubungkan berbagai lapisan dinding, dengan desain unik yang mencakup tempat duduk di bawah atap, yang mungkin berfungsi sebagai pos penjaga.
Masjid Mubarak dan Situs Religi di Dalam Benteng
Di dalam kompleks benteng, terdapat Masjid Mubarak yang dibangun pada tahun 1546. Masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam di Wakatobi. Selain masjid, terdapat juga makam tokoh adat, salah satunya makam Djilabu, seorang penyiar agama Islam di Pulau Wangi-Wangi dan sekitarnya. Masjid ini menjadi saksi bisu sejarah dan simbol kekuatan serta persatuan masyarakat Kesultanan Buton masa lampau.
Merupakan masjid pertama yang menjadi pusat penyebaran Islam di Wakatobi. Masjid ini dibangun delapan tahun setelah pelantikan Sultan Buton Pertama, Sultan Murhum, pada tahun 1538. Di sekitar masjid, pengunjung dapat menemukan makam Djilabu, seorang tokoh adat dan penyiar agama Islam pertama di Pulau Wangi-Wangi.
Baca Juga: Destinasi Wisata Alam Hutan Mangrove Desa Totobo Yang Bagus
Kehidupan Masyarakat dan Potensi Wisata Desa Liya Togo
Desa Liya Togo terletak di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Sebagian besar penduduk desa ini adalah suku Wakatobi. Luas wilayah desa ini sekitar 4.770 hektar. Desa ini dihuni oleh sekitar 2.929 jiwa, dengan 1.390 laki-laki dan 1.539 perempuan, yang sebagian besar beragama Islam.
Masyarakat Desa Liya Togo telah melestarikan nilai-nilai dan ritual tradisional mereka selama beberapa dekade. Desa Liya Togo menawarkan berbagai atraksi wisata, mulai dari wisata adat dan budaya hingga wisata alam.
Pengunjung dapat menyaksikan upacara ritual seperti Posepa’a, Honari mosega, dan Walea-walea. Selain itu, wisatawan dapat mencicipi hidangan lokal seperti Helo’a Santa dan Helo’a Sira yang disantap dengan kasoami. Dari atas benteng, wisatawan dapat menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang indah.
Informasi Praktis Untuk Mengunjungi Benteng Liya Togo
Benteng Liya Togo terletak sekitar 8 km dari pusat kota. Cara terbaik untuk mengunjungi desa ini adalah dengan mengendarai sepeda motor karena sebagian besar jalannya sempit dan tidak cocok untuk mobil. Desa ini juga terkenal dengan sarung tradisionalnya. Pengunjung dapat menemukan dinding asli benteng dengan bebatuan berwarna hitam.
Karena pemukiman ini terletak di atas bukit, ada beberapa tempat yang bagus untuk melihat laut dan pulau-pulau Wakatobi. Untuk mencapai Desa Liya Togo, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dari Bandar Udara Matahora, dengan jarak sekitar 15 km. Akses jalan yang baik memudahkan perjalanan ke desa ini.
Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani agar-agar laut dan nelayan. Saat mengunjungi desa ini, wisatawan diharapkan mengenakan sarung sebagai bentuk penghormatan terhadap adat setempat.
Kesimpulan
Benteng Liya Togo bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga cerminan dari kekayaan budaya dan nilai-nilai tradisional masyarakat Wakatobi. Dengan arsitektur unik, nilai-nilai sejarah yang mendalam, dan pemandangan alam yang memukau, Benteng Liya Togo menawarkan pengalaman wisata yang tak terlupakan.
Pelestarian dan pengelolaan yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa warisan berharga ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang, serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Mengunjungi Benteng Liya Togo adalah kesempatan untuk menyelami masa lalu, menghargai keindahan alam, dan merasakan keramahan budaya Wakatobi yang otentik. Temukan lebih banyak informasi tempat-tempat bersejarah di Sulawesi Tenggara dengan lengkap hanya di ALL ABOUT SULAWESI TENGGARA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari sultra.antaranews.com
- Gambar Kedua dari travel.detik.com